Ulasan Cerpen "Gadis Kecil Beralis Tebal Bermata Cemerlang"



Cerpen karya A. Mustofa Bisri menceritakan tentang kisah seorang pemuda yang akan berkunjung ke rumah temannya yang bernama Sahlan. Pada saat ia akan berangkat dari stasiun, ia tidak sengaja melihat seorang gadis kecil beralis tebal dan mempunyai mata yang cemerlang hingga pemuda itu tidak bisa mengalihkan perhatiannya pada gadis tersebut. Rasa penasaran yang terus terbayang-bayang akan sosok gadis itu di setiap perjalanannya menuju ke rumah Sahlan.
Setelah ia sampai di rumah Sahlan, lalu pemuda tersebut dikenalkanlah pada istri Sahlan. Istri Sahlan mempunyai sosok yang mirip dengan gadis yang ia temui di stasiun tadi. Beralis tebal, mata yang cermerlang, dan senyumannya yang manis. Istri Sahlan jarang berbicara banyak pada orang lain. Tanpa harus banyak berkata-kata, istri Sahlan sudah dapat berbicara hanya dengan mata cemerlangnya yang indah. Istri Sahlan tidak suka banyak bicara, ia lebih suka memancarkan senyumannya. Dan yang masih menimbulkan pertanyaan di hati pemuda itu adalah mengapa istri Sahlan sangat mirip sekali dengan gadis yang ia temui di stasiun pada hari itu.

Ulasan Cerpen :
Gadis kecil beralis tebal bermata cemerlang yang pemuda itu temui di stasiun berbeda dengan gadis lain pada umumnya. Tanpa harus berkata-kata gadis tersebut mampu mengungkapkan apa yang ia maksud dalam hatinya. Diam bukan berati cuek ataupun sombong pada orang sekitar, namun lebih baik diam daripada harus berbicara yang menyakiti perasaan orang lain. Hal tersebut terdapat pada kalimat “Hanya pandangannya saja yang tidak terlepas dari diriku. Aku sama sekali tidak bisa menafsirkan atau sekadar menerka-nerka kehadiran dan pandangannya. Wajah manis itu tidak mengekspresikan apa-apa”.
Lalu saat pemuda itu bertemu dengan istri Sahlan terdapat sebuah pernyataan dari Sahlan bahwa “Dia berbicara tidak menggunakan mulut. Mulutnya hanya untuk tersenyum dan bernyanyi. Mungkin kau mendengar nyanyian India tadi, itulah lagu kesukaannya. Merdu ya?! Tapi dia hanya berkata-kata dengan matanya dan sesekali dengan senyumannya”. Istri Sahlan adalah sosok yang jarang suka berbicara, ia lebih suka tersenyum atau menggunakan mata cemerlangnya untuk mengisyaratkan pada orang lain. Itulah menurut Sahlan istrinya tersebut adalah wanita yang istimewa dari wanita-wanita lain. Sepeti kata pepatah, “Diam itu Emas”. Lebih baik jika kita diam dari pada harus berbicara yang tidak sesuai fakta dan dilebih-lebihkan tanpa memandang kemampuan diri sendiri “Tong Kosong Berbunyi Nyaring”.
Karena sejatinya, seorang wanita itu harus anggun. Diam tanpa harus banyak bicara dan memancarkan aura positif dari dalam dirinya. Itulah yang membuat wanita tersebut terasa istimewa.
Pada bagian akhir cerpen tersebut, menceritakan sosok gadis yang ditemui pemuda sama persis dengan istri Sahlan, apakah nasib pemuda tersebut sama dengan Sahlan yang nantinya akan mendapat jodoh seperti istri Sahlan atau yang lain.
Dalam cerpen ini pengarang mampu membuat pembaca harus membaca ulang untuk tahu apa maksud dari isi cerpen tersebut. Pengarang menggambarkan suatu tokoh melalui panca indra seperti mata yang cemerlang, senyum di bibir yang manis, dan alis yang tebal. Makna yang harus dicari dalam setiap penggambaran sang pengarang ada banyak sekali, itulah yang membuat cerpen ini menarik untuk diulas.


Septiana Dea Safira_16410164_PBSI4D

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Ngopi Puisi